Ostroff dalam Jex (2002:131) mengemukakan bahwa organisasi yang tingkat kepuasan pegawainya tinggi cenderung memberikan kinerja yang tinggi terhadap organisasinya.
Berangkat dari hasil penelitian yang mengemukakan bahwa organisasi yang tingkat kepuasan pegawainya tinggi cenderung memberikan kinerja yang tinggi, maka tak salah kita mempertanyakan apakah ada korelasi antara rendahnya pencapaian laba perusahaan dengan kepuasan karyawan. Jangan jangan disamping banyaknya variabel yang harus diperhitungkan maka pertanyaan sederhana itu pun layak untuk dipertanyakan.
Salah satu unsur yang mempengaruhi kepuasan kerja adalah proses komunikasi. Brownell dalam Forster (2005:94) menyatakan bahwa riset dalam organisasi telah menunjukan hal yang paling diinginkan karyawan dari manajer senior dan pemimpin mereka adalah komunikasi yang lebih sering dan menambah keterlibatan mereka dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian pertanyaan tentang kinerja karyawan akhirnya dapat kita tarik pada proses komunikasi. Komunikasi bisa dianggap sebagai lem perekat organisasi.
Semisal analogi produk sepatu yang terlihat hanya bagian desain muka, sol bawah dan bahan bahan membuatnya. Bagian lem tidak kelihatan jelas padahal itulah yang membuat produk sepatu itu kuat karena menggunakan lem yang kuat. Kalau pemisalan seperti itu dinisbatkan pada organisasi, maka lem komunikasi itulah yang harus menjadi perhatian. Sebagaimana karakter organisasi pada umumnya, hal yang sering menjadi permasalahan adalah komunikasi atasan bawahan yang sering menimbulkan gap karena pengambilan keputusan lebih banyak di dominasi model top down dan sangat jarang bersifat bottom up sehingga keputusan jarang melibatkan bawahannya.
Dalam prakteknya komunikasi ke atas sulit karena sulitnya memperoleh informasi ke bawah. Empat alasan mengapa komunikasi ke atas terlihat amat sulit :
1. Kecenderungan bagi karyawan untuk menyembunyikan pikiran mereka. Penelitian menunjukan bahwa karyawan merasa bahwa mereka akan mendapat kesulitan bila mereka berbicara kepada pimpinan mereka dan cara terbaik untuk naik pangkat dalam organisasi tersebut adalah sepakat dengan pimpinan mereka.
2. Perasaan bahwa pimpinan tidak tertarik kepada masalah karyawan. Karyawan sering sekali melaporkan bahwa pimpinan mereka tidak memperhatikan masalah mereka. Pimpinan mungkin tidak memberi tanggapan terhadap masalah karyawan dan mungkin menahan beberapa komunikasi ke atas karena hal itu mungkin membuat mereka terlihat buruk dalam pandangan atasan mereka.
3. Kurangnya penghargaan bagi komunikasi ke atas yang dilakukan karyawan. Seringkali pimpinan tidak berhasil memberi penghargaan yang nyata atau terselubung untuk mempertahankan agar saluran komunikasi ke atas tetap terbuka.
4. Perasaan bahwa pimpinan tidak dapat dihubungi dan tidak tanggap pada apa yang disampaikan karyawan. Bisa terjadi pimpinan terlalu sibuk untuk mendengarkan atau bawahan tidak dapat menemukan mereka. Bila penyedia ada di tempatnya, ia tidak tanggap pada apa yang dikatakan bawahan tersebut. Akibat dari terputusnya komunikasi ke atas maka sangat dimungkinkan pegawai merasa tidak terlibat, tidak bahagia dan tidak puas sehingga tidak bisa memberikan kontribusi maksimal, padahal merekalah garda terdepan yang berjuang bagi perusahaan.
Kenapa komunikasi dari bawahan penting? Aliran informasi ke atas
memberi informasi berharga untuk pembuatan keputusan oleh mereka yang
mengarahkan organisasi, dan mengawasi kegiatan orang-orang lainnya.
Selain itu dapat memberitahukan kapan bawahan mereka siap menerima
informasi dari mereka dan seberapa baik bawahan menerimanya.
Komunikasi ke atas memungkinkan bahkan mendorong omelan dan keluh
kesah muncul ke permukaan sehingga pimpinan tahu apa yang mengganggu
mereka. Komunikasi bawahan ke atasan dapat menumbuhkan apresiasi dan
loyalitas kepada organisasi dengan memberi kesempatan kepada pegawai
untuk mengajukan pertanyaan dan menyumbang gagasan serta saran-saran
mengenai operasi organisasi dan membantu karyawan mengatasi masalah
pekerjaan mereka dan memperkuat keterlibatan mereka dengan pekerjaan
mereka dan dengan organisasi tersebut.
Kunci dari semuanya adalah adanya pimpinan yang mau mendengar dan
bersedia berbagi dengan anggotanya. Ego pimpinan akan sangat menghambat
proses komunikasi. Ketentuan peraturan yang digariskan, beribu ribu
lembar SOP, Model Penilaian Kinerja dan Konsep konsep sehebat apapun
yang diadopsi dari luar akan menjadi tak bernilai. Ibarat sepatu dari
kulit buaya yang hancur sekali pakai karena menggunakan perekat yang
kurang baik.
Perekat itulah ”Lem Komunikasi”. Sudah seharusnya dan selayaknya
komunikasi tidak hanya berupa instruksi semata dari atas tetapi
melibatkan bawahan. Merekalah garda terdepan berhubungan dengan semua
pemangku kepentingan. Merekalah yang berjuang di garis depan
pertempuran merebut hati konsumen untuk peduli dengan produk perusahaan... Mereka
adalah manusia yang pasti ingin juga di dengar.
Bahagiakanlah mereka..karena dengan bahagia mereka berkinerja. Kebahagian pertama mereka adalah mereka bisa berbicara.
(Hendar Iskandar, sumber inspirasi dari : http://www.pajak.go.id/)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Boleh donk kasih komentarnya ...
Terima kasih.