Jumat, Agustus 15, 2014

Budaya Melayani Dengan Sepenuh Hati

Perusahaan tempat Anda bekerja bisnisnya bagus nggak? Jika masih bisa mempekerjakan dan menggaji Anda, maka Anda boleh tenang saja ya. Lantas, bagaimana Anda bisa yakin perusahaan itu bagus atau tidak? Ukuran pertamanya tentu dalam hal kondisi keuangan. Meskipun tidak bisa mengintip datanya, tapi kita bisa memperkirakannya. Dari mana? Dari nilai penjualannya. Perusahaan yang kinerja penjualannya baik, tentu punya harapan baik. Dan perusahaan yang kinerja penjualannya buruk, sudah bisa dipastikan sedang berada dalam masalah besar.
 
Kenapa penjualan itu jadi ukuran? Karena penjualan berkorelasi dengan pendapatan. Ada penjualan, ada pembayaran. Dan pembayaran berarti sumber keuangan. Lantas, siapa yang melakukan pembayaran itu? Tentunya pelanggan dong. Nah sekarang, coba bayangkan; apa yang terjadi jika perusahaan Anda kehilangan pelanggan? Dia akan kehilangan pendapatan, bukan?
 
 
 
Sampai disini, kita tentu bisa paham. Tetapi, pahamkah Anda bahwa tidak ada jaminan jika pelanggan itu akan tetap bertahan? Boleh jadi, mereka berpindah ke perusahaan lain bukan? Anda mesti kalang kabut mencari pelanggan lain. Sekalipun Anda berhasil mendapatkan pelanggan baru, kehilangan pelanggan lama tetap merupakan sebuah kerugian. Lagi pula, nilai transaksi dari pelanggan baru belum tentu bisa menutupi kehilangan dari pelanggan sebelumnya. Makanya, kita semua mesti mati-matian menjaga pelanggan.
 
“Tapi kan saya tidak berhubungan langsung dengan pelanggan?!” mungkin Anda berpikiran demikian. Memang, kebanyakan orang berpikir begitu. Padahal, apapun peran Anda di kantor berkaitan dengan pelanggan. Sekalipun Anda tidak bertemu langsung dengan mereka. Mengapa demikian? Karena pelanggan tidak melihat pelayanan yang mereka terima itu sebagai pekerjaan individu. Mereka cenderung melihatnya sebagai gambaran perusahaan secara keseluruhan.
 
Misalnya, seseorang masuk ke restoran yang makanannya enak. Tapi pada piring yang disediakan ada noda sehingga selera makannya hilang. Maka, lezatnya makanan tidak ada artinya lagi karena bagi pelanggan itu, restoran tersebut adalah tempat yang jorok. Hanya karena 1 orang yang kurang telaten dalam melayani pelanggan, bisa menjadikan citra perusahaan buruk seluruhnya.
 
Contoh lain misalnya, ada pelanggan yang datang berkunjung ke perusahaan Anda. Lalu mereka bertemu dengan orang yang judes disana. Maka persepsi mereka tentang kantor Anda akan buruk. Andai mereka masuk ke toilet. Bayangkan kalau toilet kantor Anda tidak terawatt. Yaiksss… mungkin dia tidak tertarik lagi berurusan dengan kantor Anda.
 
Oleh karenanya, melayani pelanggan merupakan kerja bersama-sama semua elemen di perusahaan. Maka mental melayani mesti menjadi budaya organisasi. Supaya, setiap orang bisa memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggannya. Apakah Anda sudah mempunyai mental melayani? Kalau sudah, keren. Kalau belum, segeralah lakukan agar Anda dan juga perusahaan tempat Anda bekerja tidak kehilanggan pelanggan yang artinya tidak akan kehilangan income.
 
(By : Dadang Kadarusman)
 
 
Catatan Kaki:
Tidak bertemu langsung dengan pelanggan tidak berarti tidak melayani mereka. Semua yang kita kerjakan pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat kepuasan pelanggan. Maka mengerjakan tugas dan tanggungjawab sebaik-baiknya merupakan salah satu cara bagi kita untuk memberikan pelayanan yang memuaskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Boleh donk kasih komentarnya ...

Terima kasih.