Perusahaan tempat Anda bekerja
bisnisnya bagus nggak? Jika masih bisa mempekerjakan dan menggaji Anda, maka Anda
boleh tenang saja ya. Lantas, bagaimana Anda bisa yakin perusahaan itu bagus
atau tidak? Ukuran pertamanya tentu dalam hal kondisi keuangan. Meskipun tidak
bisa mengintip datanya, tapi kita bisa memperkirakannya. Dari mana? Dari nilai
penjualannya. Perusahaan yang kinerja penjualannya baik, tentu punya harapan
baik. Dan perusahaan yang kinerja penjualannya buruk, sudah bisa dipastikan
sedang berada dalam masalah besar.
Kenapa penjualan itu jadi
ukuran? Karena penjualan berkorelasi dengan pendapatan. Ada penjualan, ada
pembayaran. Dan pembayaran berarti sumber keuangan. Lantas, siapa yang
melakukan pembayaran itu? Tentunya pelanggan dong. Nah sekarang, coba bayangkan;
apa yang terjadi jika perusahaan Anda kehilangan pelanggan? Dia akan kehilangan
pendapatan, bukan?
Sampai disini, kita tentu bisa
paham. Tetapi, pahamkah Anda bahwa tidak ada jaminan jika pelanggan itu akan
tetap bertahan? Boleh jadi, mereka berpindah ke perusahaan lain bukan? Anda
mesti kalang kabut mencari pelanggan lain. Sekalipun Anda berhasil mendapatkan
pelanggan baru, kehilangan pelanggan lama tetap merupakan sebuah kerugian. Lagi
pula, nilai transaksi dari pelanggan baru belum tentu bisa menutupi kehilangan
dari pelanggan sebelumnya. Makanya, kita semua mesti mati-matian menjaga
pelanggan.
“Tapi kan saya tidak
berhubungan langsung dengan pelanggan?!” mungkin Anda berpikiran demikian.
Memang, kebanyakan orang berpikir begitu. Padahal, apapun peran Anda di kantor berkaitan
dengan pelanggan. Sekalipun Anda tidak bertemu langsung dengan mereka. Mengapa
demikian? Karena pelanggan tidak melihat pelayanan yang mereka terima
itu sebagai pekerjaan individu. Mereka cenderung melihatnya sebagai gambaran
perusahaan secara keseluruhan.
Misalnya, seseorang masuk ke
restoran yang makanannya enak. Tapi pada piring yang disediakan ada noda
sehingga selera makannya hilang. Maka, lezatnya makanan tidak ada artinya lagi
karena bagi pelanggan itu, restoran tersebut adalah tempat yang jorok. Hanya
karena 1 orang yang kurang telaten dalam melayani pelanggan, bisa menjadikan citra
perusahaan buruk seluruhnya.
Contoh lain misalnya, ada
pelanggan yang datang berkunjung ke perusahaan Anda. Lalu mereka bertemu dengan
orang yang judes disana. Maka persepsi mereka tentang kantor Anda akan buruk. Andai
mereka masuk ke toilet. Bayangkan kalau toilet kantor Anda tidak terawatt.
Yaiksss… mungkin dia tidak tertarik lagi berurusan dengan kantor Anda.
Oleh karenanya, melayani
pelanggan merupakan kerja bersama-sama semua elemen di perusahaan. Maka mental melayani
mesti menjadi budaya organisasi. Supaya, setiap orang bisa memberikan pelayanan
terbaik kepada pelanggannya. Apakah Anda sudah mempunyai mental melayani? Kalau
sudah, keren. Kalau belum, segeralah lakukan agar Anda dan juga perusahaan tempat Anda bekerja tidak kehilanggan pelanggan yang artinya tidak akan kehilangan income.
Catatan Kaki:
Tidak bertemu
langsung dengan pelanggan tidak berarti tidak melayani mereka. Semua yang kita
kerjakan pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat kepuasan pelanggan. Maka
mengerjakan tugas dan tanggungjawab sebaik-baiknya merupakan salah satu cara
bagi kita untuk memberikan pelayanan yang memuaskan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Boleh donk kasih komentarnya ...
Terima kasih.