Menurut pendapat Anda, apa kesamaan antara air dengan uang? Banyaklah ya. Salah satunya; sama-sama ‘basah’. Kalau air basah beneran, kalau uang ‘basah’ sebatas istilah. Makanya, tempat atau posisi yang menjanjikan banyak uang disebut ‘posisi basah’. Musim kemarau disebut ‘musim kering’. Di tanggal tua, kita menyebut ‘dompet kering’. Nah, pada saat sedang ‘kering’ itu kan kita mengharapkan turunnya hujan. Pertanyaannya adalah; mana yang paling Anda harapkan, hujan air atau hujan uang?
Sekarang kita memasuki musim hujan. Setiap hari hujan disertai dengan petir dan banjir. Sampai-sampai tidak jarang kita mendengar orang berkata ‘Yaaah… hujan lagi deh’. Kayaknya kita kecewa deh kalau hujan turun. Padahal, sebulan yang lalu kita masih memohon agar segera turun hujan karena air sumur sudah mulai mengering. Begitu hujan lebat turun, kita menggerutu. Kalau soal uang, sikap kita nggak begitu. Nggak ada kan orang yang bilang ‘Yaaa….dapat uang lagi deh…” Kalau soal uang mah, berapa pun ya dikeruk aja.
Kita sih inginnya kalau hujan itu ya secukupnya saja. Jangan sampai banjir gitu loh. Tak jarang dalam hati kita berbisik;‘Ya Tuhan, tolong kurangi hujannya jangan terlalu lebat….’ Soal air ini, kita berani bilang agar Tuhan membatasi jumlahnya. Kalau soal uang, mana pernah kita bilang; “Tuhan tolong dong, jumlah uang saya dikurangi. Kebanyakan nih….”. Nggak banget deh.
Di musim hujan ini kita juga berharap agar turunnya tidak sampai membuat aktivitas harian kita terhambat iya kan? Kalau bisa, hujan turunnya pas malam hari aja ketika kita sedang tidur. Pagi siang hingga sore, nggak turun hujan. Kan enak. Ehem… maunya sih gitu. Kalau soal uang, kapan pun datangnya kita siap aja toh? Malah kalau perlu, ketika sedang tidur pun uang terus berdatangan ke dompet kita. Nggak ada tuch ceritanya kita bilang; ‘tolong dong jangan kasih saya uang terus. Mau istirahat dulu nih…”
Apa sih yang Anda khawatirkan dari hujan yang lebat? Kita takut kebanjiran kan. Kita takut bumi ini tidak sanggup menampung curahnya sehingga air itu malah membawa bencana. Air yang terlalu banyak, terbukti bisa menimbulkan malapetaka. Terus, apa yang Anda takutkan jika uang yang Anda miliki itu terlalu banyak? Ehem… ngapain mesti takut kan? Justru makin banyak uang, kayaknya sih kita bakal makin senang. Tapi apa iyya dengan uang yang lebih banyak itu hidup kita akan menjadi lebih baik?
Boleh jadi, kebanyakan uang malah menyebabkan kita berubah dari baik menjadi buruk. Bukankah banyak orang yang ketika masih belum kaya raya hidupnya bersahaja, santun, ramah dan baik hati. Tapi ketika sudah punya banyak uang sikap dan perilakunya berubah menjadi buruk. Seperti air yang terlalu banyak, uang yang terlalu banyak itu pun terbukti punya efek buruk.
Tapi, kan tidak semua orang yang punya uang banyak perilakunya jadi buruk. Cukup banyak orang yang justru semakin baik hati seiring dengan semakin banyaknya uang yang mereka miliki. Sama seperti hujan besar yang tidak selamanya menimbulkan banjir. Di tempat-tempat tertentu, sebanyak apapun guyuran hujan tetap saja menjadi anugerah. Maka bagi pribadi-pribadi tertentu, semakin banyak uang justru semakin baik dirinya. Dengan hujan yang lebat, ada daerah yang banjir. Dan ada yang menjadi subur. Dengan uang yang banyak, ada orang yang berperilaku semakin buruk. Dan ada juga orang-orang yang semakin baik. Apa yang menimbulkan perbedaannya ya?
Mari perhatikan, apa yang terjadi di dataran yang suka banjir itu. Tanahnya tidak mampu menyerap air yang tertumpah dari langit. Setiap kali turun hujan, airnya mejeng saja dipermukaan. Makanya jadi banjir. Perhatikan bahwa manusia pun ada yang punya perilaku seperti itu. Kalau punya uang, langsung dipamerkan dipermukaan. Bukannya diserap lalu dimasukkan ke tempat penyimpanan yang tertutup rapi, ini malah dengan nyantainya diperlihatkan kepada publik. Makin banyak uangnya, makin rajin pamer. Makin banyak yang melihatnya. Makin bangga dirinya. Kepada tukang pamer seperti ini, tidak ada orang yang menaruh hormat kan? Kalau yang kepengen kecipratan uangnya … banyak.
Beda banget dengan tanah yang mau menyerap air itu. Berapapun air yang mengalir diatasnya, langsung diserapnya masuk kedalam. Sedangkan dipermukaan, dia cukup terlihat basah saja. Karena air yang diserapnya dia simpan didalam kompartemen bawah tanah. Air itulah yang kelak menjadi sumber kehidupan, bagi mahluk lainnya. Orang-orang yang bersahaja kira-kira berperilaku seperti ini. Meski punya banyak uang, mereka tidak memamerkannya lewat kekayaan dan gaya hidup bermewah-mewahan. Uangnya digunakan untuk memberi manfaat kepada lingkungannya. Seperti tanah yang menyerap air kehidupan itu.
Tanah yang menyerap air, berubah menjadi subur. Air didalamnya semakin banyak. Hingga diatasnya tumbuh berbagai tanaman. Keberadaan tanah itu menjadi hikmah bagi lingkungannya. Tanah yang memamerkan air itu, semakin terkikis. Air yang dimilikinya hanya melintas sesaat. Setelah banjir surut, semua hilang begitu saja. Boro-boro menumbuhkan pohon yang baru, yang sudah ada saja ikut tumbang.
Manusia juga kira-kira samalah. Orang-orang yang suka pamer kemewahan. Duwitnya ludes begitu kemewahan tidak sanggup lagi dibelinya. Seperti banjir yang menyusut saja. Nggak ada sisanya sama sekali. Seperti tanah yang doyah pamer air permukaan itu. Banjir. Surut. Lalu kering dan gersang. Sedangkan tanah yang gembur itu mengumpamakan mereka yang tetap bersahaja. Meski musim hujan telah reda, airnya masih ada. Karena ketika uang masih ada, mereka tidak berfoya-foya.
Diantara tanaman yang tumbuh ditanah subur itu ada yang berakar besar. Pohonnya menjulang tinggi ke langit. Dia mengambil air dari tanah. Lalu berbuah. Tapi pohon itu tidak menyebabkan air didalam tanah menjadi kering. Malah sebaliknya. Pohon yang rindang itu menarik awan. Ketika sang awan datang, dia membawa hujan. Ketika turun hujan, tanah itu menyerap airnya lagi. Hingga dia semakin subur. Dan kandungan air dalamnya semakin melimpah. Lalu biji-bijian dari buah yang terjatuh kembali tumbuh. Terus begitu, hingga semakin rindanglah tanah itu. Lama-lama menjadi hutan lebat.
Hutan itu adalah perumpamaan bagi orang-orang yang menggunakan uangnya untuk beramal soleh. Sedangkan untuk dirinya sendiri ya hidup secukupnya saja. Tidak pelit kepada diri sendiri, namun tidak berlebih-lebihan. Apakah dengan beramal soleh uangnya akan habis? Tidak. Malah sebaliknya. Semakin lancar rezekinya mengalir. Persis seperti siklus pertumbuhan tanaman ditanah gembur yang menyerap hujan itulah. Mengapa bisa begitu? Karena alam ini mengikuti hukum Tuhan. Sedangkan hukum Tuhan menyatakan bahwa setiap kebaikan manusia yang tulus dibalas hingga 700 kali lipatnya. Bahkan lebih banyak lagi.
Ini sesuai dengan firman Tuhan dalam surah 2 (Al-Baqarah) ayat 261; “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya dijalan Allah itu seperti sebutir biji yang menumbuhkan 7 tangkai. Pada setiap tangkai, ada 100 biji. Dan Allah melipatgandakannya lagi bagi siapa saja yang Dia kehendaki.” Jadi, apa lagi kesamaan antara hujan air dan hujan uang? Akan sama-sama menjadi hikmah jika kita menyikapi dan menggunakannya dengan cara yang sesuai dengan hukum Tuhan.
Mari Berbagi Semangat!
Catatan Kaki:
Hujan akan menjadi bencana, jika airnya dibiarkan saja mengalir di permukaan. Tapi akan menjadi hikmah jika air itu diserap kedalam tanah. Sama seperti hujan uang juga. Akan menjadi bencana atau hikmah, bergantung bagaimana kita menyikapinya saja.
(sumber : http://dadangkadarusman)
Bismillahirrahmanirrahiim...,
Blog ini didedikasikan bagi mereka yang ingin merubah hidupnya ; minaz-zulumati ilan-nur, dari sedih menjadi gembira, dari pesimis menjadi optimis.
Selamat Datang Perubahan
"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."
(QS Ar Ra'du 13 : 11)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Boleh donk kasih komentarnya ...
Terima kasih.