Berapa kali Anda mendengar
orang-orang yang punya jabatan mengeluh? Supervisor yang mengeluh. Manager yang
mengeluh. Direktur yang mengeluh. Kalau kata pengamat politik, kepala negara
pun suka mengeluh juga. Lucunya, keluhan mereka terdengar oleh anak buahnya.
Bayangkan apa yang terjadi pada mental anak buahnya begitu mereka tahu bahwa
atasannya pun mengeluhkan pekerjaannya. Makanya, tidak cocok kalau kita menjadi
seorang pemimpin, dan kita; mengeluhkan urusan pekerjaan dihadapan anak buah.
Memangnya tidak boleh mengeluh? Atasan juga manusia kan?!
Menyelamatkan satu-satunya
prajurit Ryan yang masih tersisa dari 4 bersaudara dalam perang dunia kedua
adalah tugas Kapten Miller. Perintah itu datang langsung dari pimpinan
tertinggi Angkatan Bersenjata Amerika. Ryan harus pulang untuk menghibur Ibunya
yang telah kehilangan 3 kakaknya yang gugur dalam pertempuran. Semua anak buah
Kapten Miller mempertanyakan kenapa mereka mesti mempertaruhkan nyawa untuk
sekedar mencari si Ryan? Lagian belum tentu juga prajurit itu masih hidup. Bisa
jadi sudah gugur seperti ketiga kakaknya. Sepanjang perjalanan mereka terus
menggerutu. Semua orang, kecuali sang kapten.
“Kapten, Anda tidak pernah
mengeluh?” teriak salah seorang prajuritnya.
Lalu Kapten Miller mengatakan.
“Sori Rieben, Aku ini seorang kapten. Aku tidak mengeluh kepada kamu.” Semua
anak buahnya terdiam.
Setelah itu dia menambahkan; “Aku
punya atasan. Atasanku punya atasan lagi. Atasannya atasanku punya atasan lagi.
Begitulah rantai komandonya jika ingin mengeluh,” katanya. “Jadi sori, aku
tidak mengeluh kepada kamu....”
Ini pelajaran penting bagi
para pemimpin. Ketika mendapatkan target sales yang tinggi, misalnya.
Mengeluhkan tentang betapa mustahilnya mencapai sales itu kepada anak buahnya
merupakan sebuah keteledoran. Selain menurunkan daya juang anak buahnya, itu
juga akan menyebabkan hilangnya rasa hormat. Ketika mendapatkan tugas yang
sangat berat, misalnya. Tugas apapun yang berkaitan dengan jabatan kita. Oooh,
pantang mengeluh dihadapan anak buah. Kapten Miller bilang, “maaf, aku tidak
mengeluh kepada kalian....”
Seorang kapten, diangkat untuk
menjadi kapten. Maka mental dia mesti lebih kokoh, lebih tangguh dan lebih kuat
dibandingkan seorang sersan. Apa lagi dibanding para prajurit. Seorang
Supervisor, pun mesti lebih tahan mental dibandingkan dengan staff dan
operatornya. Apa lagi jika sudah memegang jabatan manager. Mengeluh dihadapan
anak buahnya? Hanya menunjukkan jika dirinya belum siap memegang jabatan itu.
Begitu pula dengan General
Manager, Direktur dan seterusnya. Jika jabatan itu tidak diimbangi dengan
kekuatan mental yang memadai, maka semakin tinggi jabatan akan semakin besar
bebannya. Dan semakin besar pula peluang mengeluhnya. Maka hanya orang yang
mentalnya cocok dengan jabatan yang disandangnya saja yang bisa lolos dari
godaan mengeluh.
Artikel saya yang sebelumnya
mendapatkan reaksi keras dari beberapa pembaca. “Memangnya mengeluh itu dosa!?”
katanya. Bahkan ada yang mempertanyakan apakah saya pribadi pernah mengeluh
atau tidak. Saya tidak perlu berbohong dengan mengatakan tidak pernah. Tetapi,
kepada siapa dan bagaimana kita mengeluh; menjadi faktor pembeda yang bermakna.
Reiben tidak kalah akal. Dia
menantang kaptennya dengan berkata begini; “Baiklah kapten. Misalnya saja saya
ini mayor. Coba tunjukkan bagaimana caramu mengeluh kepada saya....?” Teman
prajuritnya pada tertawa. Seru juga sih. Karena hal seperti itu bisa menjadi
hiburan langka ditengah hutan dengan hujan lebat berupa desingan butir peluru
dan gelegar halilitar dari meriam.
“Oke,” begitu sambut Kapten
Miller. “Mayor Reiben, Sir. Keputusan Bapak itu sangat baik sekali Sir. Saya
akan melakukan segala usaha yang saya bisa lakukan untuk bisa mewujudkannya,
Sir. Apa pun yang terjadi, saya akan mendukung keputusan Anda, Sir.....”
Sejenak para prajurit itu
terdiam. Lalu mereka saling berbisik;”Boleh juga...” Kemudian dibalas oleh
temannya; “Sekarang aku mulai menyukainya......”
Seorang kapten yang mengeluh
kepada mayornya, cocok sekali untuk menjadi atasan bagi para sersan dan
prajurit yang suka mengeluh. Tetapi seorang kapten yang tidak mengeluh, diikuti
oleh anak buahnya dengan patuh. Sama seperti para supervisor, para manager dan
para leader lainnya yang tidak suka mengeluhkan pekerjaan dan tanggungjawabnya.
Mereka layak mendapatkan anak buah yang tangguh-tangguh.
Anda boleh mengatakan bahwa contoh yang saya ceritakan itu hanya cocok dikalangan militer. Diperintah apapun juga ya manut saja. Kalau membangkang disebut disersi. Dan kalau disersi hukumannya bisa tembak mati. Kita ini kan karyawan profesional. Tidak cocok dong gaya kepemimpinan militer untuk kita.
Anda benar jika berpikir
begitu. Sekarang izinkan saya untuk menyampaikan apa yang saya alami sendiri. Ketika
itu saya mendapatkan surat pengangkatan rangkap jabatan. Didalam surat yang
ditandatangani boss besar itu jelas tertulis kalimat berkaitan dengan
kompensasi dan benefit yang akan saya terima berkaitan dengan tugas berat tersebut.
Tetapi, apa yang terjadi ditanggal gajian? Ternyata apa yang namanya kompensasi
dan benefit itu sama sekali tidak tampak. Bisa terima begitu saja? Tidak. Karena
jelas kok tertulis dalam surat pengangkatan itu. Maka saya pun menanyakan hal
itu kepada atasan saya. Dan atasan saya menanyakan kepada atasannya lagi. Terus
naik hingga ke puncak menara.
Beberapa hari kemudian, saya
menerima jawabannya. Singkatnya, saya tidak mendapatkan apa yang saya harapkan.
Mudah untuk diterima? Tidak. Bisa menerimanya? Saya bisa. Dan saya mengatakan
kepada atasan saya, bahwa;”semua tanggungjawab yang berkaitan dengan penugasan
itu akan saya tangani dengan sebaik-baiknya. Jika nanti boss melihat saya gagal
menjalankan tugas itu, maka kegagalan itu bukan karena saya kecewa dengan
keputusan manajemen yang secara sepihak. Kegagalan saya – jika itu terjadi –
murni disebabkan karena ketidakmampuan saya.”
Tidak ada pertanyaan lagi. Tapi
saya, tidak akan pernah membiarkan diri sendiri gagal menjalankan tugas. Dan
saya, tahu persis bahwa; saya bisa melakukannya, dengan sangat baik. Diakhir
tahun, kami mengevaluasi pencapaian yang diraih. Semuanya baik. Kondite pun
baik. Tanpa diduga, nasib karir dan pendapatan saya pun menjadi lebih baik.
Seorang atasan mungkin saja
akan mengeluh, sahabatku. Tapi seorang pemimpin, tidak mengeluh. Maka jika kita
masih mengeluhkan pekerjaan dan tanggungjawab kita, itu artinya kita belum
menjadi pemimpin. Tidak peduli setinggi apa jabatan Anda – supervisor, manager,
direktur, bahkan Presiden sekalipun – jika masih suka mengeluh, Anda belum
menjadi pemimpin. Baru jadi pejabat saja. Baru bisa menjadi atasan. Sebab salah satu
faktor pembeda antara pejabat dengan pemimpin itu adalah; pemimpin tidak
mengeluh.
Sssst, ijinkan saya
membisikkan ini pada Anda. Jika harus mengeluh, begini caranya; bangunlah dimalam
sunyi ketika kebanyakan orang tengah terlelap. Ambil air wudlu. Lalu duduklah
bersimpuh untuk mencurhatkan semuanya kepada Allah.
Dengan begitu, maka keluhan kita akan tetap terjaga kerahasiaannya. Tidak akan ketahuan oleh anak buah kita. Sehingga spirit mereka tetap terjaga. Wibawa kita tidak ternoda. Dan sebagai seorang pemimpin, kita akan ditolong oleh Sang Maha Memimpin. Insya Allah.
Dengan begitu, maka keluhan kita akan tetap terjaga kerahasiaannya. Tidak akan ketahuan oleh anak buah kita. Sehingga spirit mereka tetap terjaga. Wibawa kita tidak ternoda. Dan sebagai seorang pemimpin, kita akan ditolong oleh Sang Maha Memimpin. Insya Allah.
(sumber : www.dadangkadarusman.com)
Catatan
Kaki :
Fungsi pemimpin itu
bukan hanya untuk memerintah, melainkan juga memberi contoh tentang sikap dan
perilaku serta tingkah polah yang baik bagi anak buah. Karena setiap anak buah,
melihat dan meniru pemimpinnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Boleh donk kasih komentarnya ...
Terima kasih.