Sebuah Puisi berupa Hikmah Kisah antara seorang Ibu dan Anak
Kuantar kau tidur malam ini anakku, seperti biasa. Bersama-sama kita ucapkan doa sebelum tidur sambil tanganmu melingkar di leherku.
Engkau tersenyum anakku, matamu menatapku bening dan bahagia.
Engkau sudah melupakan kebingungan di hati jika aku marah kepadamu, karena engkau tidak nurut perintahku
Kulontarkan kata-kata yang tajam, kata-kata yang mengkritisi
Berapa banyak, Nak yang menancap di hatimu hingga hatimu berdarah tapi engkau tidak gentar kepadaku
Padahal tadi siang aku menatapmu dengan panasnya amarah hanya karena masalah sepele yang bahkan akupun tahu kau tidak bermaksud melakukan itu.
Namun berapa banyak, berapa banyak benih cinta didapatiku yang hangus karena tatapanku Nak,tapi engkau tidak pernah jera untuk mencintaiku
Sementara tadi sore engkau tertunduk saat aku tuding engkau sebab kurasa kau tak memperhatikan kata-kataku
Tertumpah ombak menembus ke rusuk dalam jantungmu Nak, tapi engkau tetap cari aku untuk memelukku
Disaat makan malam tadi, aku menghukummu karena engkau tidak habiskan makananmu yang kubilang dibiayai dengan susah payah menyusutkah rasa sayang dalam kantong jiwamu karenanya, Nak
Malam ini kutemani engkau tidur seperti biasa bersama di tautan dan doa reduksi yang biasa kan menyikapi energi
Engkau tersenyum, matamu yang mengantuk menatapku bening dan bahagia
Air mataku mengalir saat engkau terpejam dengan senyumku. Malam ini, diri dan tanganmu masih memeluk leherku
Aku mohon maaf padamu, Nak... dan ajari aku untuk mencintaimu, seperti engkau mencintaiku
.......
(Untuk para abuya dan para ummahat : Mari lebih bersabar menghadapi anak-anak kita....
subhanallah
BalasHapussalam sahabat merinding saya bacanya sob....sangat menarik..sukses selalu.
BalasHapus