Selasa, Januari 26, 2010

MEANDER : Filosofi Kegigihan

Oleh: Risyanto Aris (lifeskill motivator)


Di dunia ini tidak sedikit orang yang lebih memilih jalan hidup yang datar-datar saja. Jalan yang dianggapnya jalur paling aman dan jauh dari resiko dan kerumitan hidup. Pilihan tersebut ternyata bukan karena seseorang tidak memiliki bekal dan potensi, namun lebih kepada ketakutannya yang tinggi terhadap kegagalan. Hal lain yang memperkuat pilihannya adalah karena faktor ketidakyakinannya terhadap apa yang ia cita-citakan.



Apakah ada jaminan jika datarnya pilihan hidup kita akan menjamin sepi dan sunyinya jalan hidup yang kita tempuh? Apakah bisa dipastikan bahwa hidup kita tak kan pernah ada masalah? Atau apakah dengan hidup yang datar kita pun akan terhindar dari ujian dan kesulitan? Ternyata tidak. Sediam apapun gerak hidup seseorang akan senantiasa diiringi resiko dan kesulitan. Mengapa? karena pada hakikatnya kesulitan itu adalah bagian dari hidup itu sendiri. Kesulitanlah yang membuat pola pikir manusia berkembang dari waktu ke waktu. Dan kesulitanlah yang membuat manusia bertambah cerdas dalam memanajemen kehidupannya.

Dahulu orang hidup dengan budaya primitif dan atmosfirnya, dan sekarang manusia pun hidup dengan segala macam fasilitas dan kemudahannya. Jika untuk memotong umbi-umbian saja dahulu kala orang menggunakan kapak batu dengan segala keterbatasannya. Maka pada hari ini manusia telah mampu merobohkan pohon berdiameter puluhan inchi hanya dengan sekali tebas dalam hitungan detik. Lalu apakah kemudian dikatakan pada masa sekarang masalah dan kesulitan sudah habis? Ternyata orang dahulu dan orang-orang zaman sekarang sama-sama memiliki tantangan dan kesulitan hidupnya masing-masing. Yang membedakan hanyalah jenis dan tingkat kesulitan yang pada hari ini lebih berkembang dan beragam dibandingkan pada zaman terdahulu.

Orang yang hidupnya penuh dengan kesunyian, pasrah terhadap nasib, menyerah dengan keminderannya, tidak akan lebih sepi berhadapan dengan kesulitan-kesulitan dibandingkan dengan orang yang hidupnya senantiasa berjibaku dengan perjuangan dan kerja keras. Oleh karena itu, kita di sini ingin mempertegas bahwa apa pun jalan yang ingin kita tempuh, termasuk jalan sukses atau jalan yang biasa-biasa, akan selalu saja ada kesulitan dan tantangan, bahkan batu sandungan. Dengan demikian, lalu kenapa harus ragu untuk mencoba mencari peluang sukses lain yang sebelumnya belum sempat kita pikirkan?

Hidup yang datar-datar saja memang sisi lain sebuah ‘kenyamanan’, zona aman yang tidak dihantui resiko dan pengorbanan. Dan merekapun kemudian mengatakan "Ah, hidup ini tak perlu dibuat susah, mengalir saja seperti air dan syukuri apa yang menjadi pemberian-Nya." Sepintas kalimat ini memiliki makna yang tepat dan selaras, namun sebenarnya keliru dan menjerumuskan.

Perhatikanlah bagaimana air mengalir dari hulu di puncak pegunungan, kemudian terus mengalir melewati dataran puluhan bahkan ratusan kilometer menuju hilir di lembah yang rendah. Benarkah aliran air itu mengalir dengan pola datar-datar saja?

Bukalah sebuah peta diatas meja dan perhatikan bagaimana alur sungai yang mengalir di sana-sini dari setiap hulunya menuju pantai. Tak satupun dari alur sungai dimuka bumi ini yang secara alamiah membentuk garis lurus. Semuanya berkelak-kelok dari semenjak hulu hingga sampai ke hilir. Bahkan tidak sedikit diantaranya yang harus berkelok berbalik arah 180 derajat untuk kemudian berbelok kembali menuju pantai. Itulah meander.

Meander memberi philosofi yang tidak sederhana kepada kita jika mau merenungkannya. Ia menyiratkan pesan bahwa perjalanan yang dilaluinya tidaklah mudah. Selalu saja ada rintangan dan hambatan yang menghadang. Sebagaimana kehidupan yang dihadapai oleh semua manusia, terlebih oleh seseorang yang memiliki mimpi sukses. Tidak jarang bebatuan yang dilaluinya adalah batu-batu cadas dan batu gamping yang sulit ditembus, bahkan sesekali juga bukit yang gagah membentang menghadang arus air yang perlahan terus merangsek dari puncak gunung atau bukit di sebelahnya. Ternyata alam pun menggambarkan pesan bahwa kesulitan dan rintangan benar-benar bagian tak terpisahkan dari alam semesta dan kehidupan itu sendiri.

Menariknya, alam pun memberikan jawaban-jawaban jitu bagi setiap orang yang bersedia meluangkan sedikit waktu untuk memperhatikannya. Alam memberikan penjelasan yang lengkap bagaimana harusnya kita melalui kesulitan-kesulitan hidup tersebut. Dan meander itu adalah salah satu kunci jawabannya.

Meander memberi makna optimis, pantang menyerah, sabar, ulet, dan kreatif dalam menanggulangi persoalan-persoalan. Kenapa?

Optimis

Air sungai yang mengalir dari sumbernya di puncak gunung tidak pernah mengkhawatirkan sedikitpun apakah alirannya akan mampu mencapai hilir ataukah tidak. Yang dilakukannya hanyalah terus mengalir mencari ruang-ruang kesempatan untuk dapat berhenti disuatu titik pemberhentian akhir. Tidak peduli akan di titik bagian mana ia akan berakhir. Namun satu hal yang pasti adalah bahwa, titik akhir pemberhentiannya itulah hilir, dimana pun.

Pantang Menyerah

Walau pun keras dan sulitnya bebatuan yang harus ditembus, aliran sungai terus saja mengalir. Meski berkelak-kelok dan waktu yang ditempuh pada akhirnya pun harus lebih lama jika dibandingkan dengan menempuh jalan lurus.

Sabar

Perjalanan meraih sukses di hilir memang perjalanan yang tidak sebentar. Cukup melelahkan dan menguras cukup banyak pengorbanan dan jerih payah. Akan tetapi air terus saja mengalir walaupun harus perlahan dan tenang.

Ulet dan kreatif

Keuletan dan kreativitas selalu saja diperlukan mengingat tantangan yang harus dihadapai juga beragam dan terus berkembang. Dengan bekal perjalanan panjang yang telah dilaluinya dari ‘hulu’ sana, bukanlah sebuah kesulitan dan alasan untuk menyerah jika sekali waktu dihadangan ujian yang tidak seperti biasanya. Lebih sulit, lebih berat, dan lebih banyak menguras energi meski harus membuat sungai bawah tanah untuk menembus beratnya penghalang dan ujian tersebut.


Demikian pula kita seharusnya, untuk merajut sukses dan meraih keberhasilan harus senantiasa membekali diri dengan sikap optimis, sebagaimana optimisnya air yang mengalir dari hulu menuju hilir. Dimana pun kita sampai itulah titik keberhasilan kita yang terus bisa kita bangun dan kembangkan.Juga sikap pantang menyerah seperti alur sungai yang berkelak-kelok demi meraih peluang sekecil apa pun untuk dapat lolos menuju tahap-tahap kesuksesan yang ada didepan mata. Sabar dengan kesulitan dan tidak mudah putus asa. Sebab setiap usaha yang kita lakukan, itu kita yakini sebagai bagian dari sebab-sebab teraihnya tujuan hidup kita. Serta keuletan dan kreatifitas kita dalam ‘melumpuhkan’ rintangan dan batu sandungan.

(sumber : http://lmminds.blogsome.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Boleh donk kasih komentarnya ...

Terima kasih.