Senin, November 16, 2009

Kisah Pablo & Bruno

Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa di Italia, tinggallah dua orang sahabat. Mereka bernama Pablo dan Bruno. Mereka berdua sama-sama ambisius, sama-sama punya kemauan yang keras dan sama-sama memiliki cita-cita yang tinggi. Mereka berdua sering bermimpi bagaimana jika suatu hari nanti mereka menjadi orang terkaya di desa mereka.
Suatu ketika, akibat musim panas yang berkepanjangan, desa mereka dilanda kekeringan yang amat sangat. Air menjadi harta yang paling berharga pada saat itu karena sulit dicari.
Sampai suatu ketika, kepala desa mereka memutuskan untuk membuat sebuah tempat penampungan air raksasa yang akan dapat memenuhi kebutuhan air bagi seluruh penduduk desa. Dengan demikian diharapkan tidak ada masalah dengan air bagi penduduk desa.



Air untuk bak raksasa itu sendiri diperoleh dari sebuah sungai yang mengalir beberapa kilometer dari desa mereka. Tugas untuk memenuhi bak raksasa ini diserahkan kepada dua sahabat Pablo dan Bruno. Mereka akan mendapat upah berdasarkan jumlah ember yang dapat mereka bawa, dengan catatan bahwa apabila bak raksasa itu tidak dapat terisi ¾-nya, mereka tidak akan dibayar. Tetapi apabila mereka dapat mengisi penuh bak tersebut, maka mereka akan mendapatkan bonus.
Alangkah senangnya Pablo dan Bruno. Terbayang oleh mereka keuntungan yang akan didapat dari ‘proyek’ baru mereka ini. Mereka semakin bersemangat ketika mengingat bonus yang akan diperoleh apabila mereka mampu melebihi target.
Dengan bersemangat, keduanya pun melaksanakan tugas mereka. Hari pertama bertugas keduanya membawa masing-masing dua buah ember untuk mengambil air dari sungai dan membawanya kembali ke bak penampungan air di desa mereka. Begitu seterusnya hingga semakin lama bak raksasa semakin penuh terisi air.
Sore hari setelah mereka selesai melaksanakan tugas, mereka pun duduk beristirahat. Senyum mengembang di bibir Bruno mengingat upah yang akan di terima di hari pertama mereka bekerja. Apalagi hari itu mereka berhasil mengisi penuh bak raksasa itu. Terbayang tambahan uang akan diperoleh keduanya. ”Wah... kita akan segera kaya, Pablo. Kita akan segera dapat mewujudkan semua impian kita!” ujarnya gembira.
Namun tidak demikian halnya dengan Pablo. Dia merasa ragu terhadap tugas baru mereka. Di hari pertama bekerja, punggungnya terasa nyeri serta kedua telapak tangannya lecet. Belum lagi kedua kakinya yang terasa pegal karena harus berjalan bolak-balik antara sungai dan desa mereka. Pablo merasa kuatir tidak dapat memenuhi target kerja mereka.
Hari kedua mereka bertugas, kekuatiran Pablo mulai terbukti : mereka hanya mampu mengisi ¾ bak saja. Ini karena kondisi fisik mereka yang sedikit banyak menghambat kerja mereka. Hal ini membuat Pablo berpikir keras, bagaimana cara membawa air dari sungai ke desa mereka dengan cara yang praktis & efisien.
Sampai suatu ketika Pablo menemukan sebuah ide.
”Bruno, aku punya ide” kata Pablo keesokan harinya saat mereka berjalan mengangkut ember-ember menuju desa mereka. ”Daripada kita mondar-mandir membawa ember hanya untuk mendapatkan beberapa penny per-hari, mengapa kita tidak membuat saja sebuah saluran pipa dari sungai menuju desa kita?”
”Saluran pipa? Untuk apa?”tanya Bruno. ”Menurutku kita sudah punya pekerjaan yang bagus dan hasilnya pun cukup bagus. Aku bisa membawa seratus ember dalam sehari. Dengan upah satu penny per-ember, berarti penghasilanku bisa satu dollar sehari. Aku bisa cepat kaya, Pablo. Kita akan segera bisa kaya!” lanjutnya lagi dengan nada gembira.
”Pada akhir minggu, aku bisa membeli sepatu baru; pada akhir bulan aku bisa membeli seekor sapi. Dan rencanaku, pada akhir bulan keenam, aku sudah dapat membangun rumah baru. Tidak ada pekeerjaan yang sedemikian menguntungkan seperti ini, Pablo. Pada akhir minggu kita berhak libur dan pada akhir tahun kita juga berhak cuti selama dua minggu dengan gaji utuh. Apa menurutmu itu masih belum cukup? Jadi sudahlah, lupakan ide untuk membuat saluran pipa itu, kawan.” kata Bruno menutup pembicaraan.
Tapi Pablo tidak mudah putus asa. Ia dengan sabar menerangkan tentang rencana pembuatan saluran pipanya itu kepada sahabtnya itu. Namun Bruno tetap berkeras untuk tetap konsisten dengan cara konvesionalnya.
Menyadari sulitnya merubah pendirian sahabatnya itu, Pablo akhirnya memutuskan untuk menjalankan idenya seorang diri. Kini Pablo bekerja paruh waktu; ia tetap bekerja mengangkut ember-ember air, sementara paruh waktunya serta di akhir pekan dia luangkan untuk membangun saluran pipanya.
Pablo bukannya tak menyadari sulitnya membuat saluran pipa impiannya. Di awali dengan sulitnya menggali saluran pada tanah kering berbatu serta penghasilannya yang juga ikut menurun lantaran jumlah ember yang diangkutnya pun menurun. Dia menyadari sepenuhnya bahwa dibutuhkan waktu paling tidak satu atau bahkan dua tahun, sebelum saluran pipanya bisa menghasilkan sesuatu yang berarti sebagaimana yang diharapkannya. Tetapi Pablo tetap yakin akan impian dan cita-citanya. Karena itu dia terus giat bekerja dan tak mempedulikan omongan orang lain. Bahkan sahabatnya sendiri sempat mengoloknya sebagai ”Pablo Si Manusia Saluran Pipa”.
Sementara itu Bruno yang berpenghasilan hampir dua kali lipat daripada Pablo, terus membangga-banggakan barang-barang baru yang telah berhasil dibelinya. Dia sudah membeli seekor keledai yang dilengkapi dengan sadel kulit terbaru. Rumahnyapun kini sudah berganti dengan rumah berlantai dua. Bruno juga kini mampu membeli baju-baju indah dan sering makan mewah di kedai. Orang-orang desa kini memanggilnya ”Mr. Bruno”.
Sementara Bruno berbaring santai di teras taman rumahnya pada akhir pekan, Pablo terus saja sibuk menggali saluran pipanya.
Pada bulan-bulan pertama, Pablo memang tidak bisa langsung menunjukkan hasil dari usahanya. Pekerjaannya memang terlihat berat, bahkan lebih berat daripada pekerjaan Bruno karena Pablo juga harus bekerja pada malam hari, demikian pula pada akhir pekan.
Tetapi Pablo selalu mengingatkan pada dirinya sendiri bahwa cita-cita masa depannya itu sesungguhnya dibangun berdasarkan perjuangan yang dilakukan hari ini! Oleh sebab itu, manakala ia mengingat hal itu, iapun semakin giat bekerja. Dari hari ke hari ia terus menggali ; inci demi inci.
“Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit” katanya selalu setiap kali ia mengayunkan cangkulnya pada tanah yang berbatu karang. Dari satu inci kemudian menjadi satu kaki...kemudian menjadi 10 kaki...kemudian menjadi 20 kaki ...lau 100 kaki ..dan seterusnya.
“Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian” ujarnya pula setiap kali ia merebahkan tubuhnya untuk beristirahat. Tak terperikan betapa lelah dan letih tubuhnya selepas bekerja seharian.
Tapi Pablo bekerja tidak asal bekerja. Dia sudah merencanakan dan menetapkan sasaran / target hariannya. Lalu ia pun akan berusaha keras untuk memenuhi targetnya itu. Ia pun selalu menanamkan keyakinan dalam dirinya bahwa hasil yang akan diperolehnya nanti akan jauuh daripada perjuangan yang telah dilakukannya pada hari ini. ”Fokuskan selalu pada impianmu” demikian ia mensugesti otaknya setiap kali matanya hendak dipejamkan tidur.
Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Hingga suatu hari Pablo menyadari bahwa saluran pipanya sudah setengah jadi. Berarti ia hanya perlu berjalan setenghnya dari jarak yang biasa ditempuh untuk mengisi ember-embernya. Dan waktu yang tersisa tetap digunakannya untuk menyelesaikan saluran pipanya. Saat-saat penyelesaian saluran pipanya pun dirasakannya semakin dekat.
Saat beristirahat, Pablo dapat menyaksikan Bruno sahabatnya yang terus saja mengangkut ember-embernya dengan bersimbah peluh. Bahkan Pablo dapat melihat bahwa bahu Bruno tampak semakin lama semakin membungkuk, sesekali menyeringai kesakitan dan langkahnya semakin lamban akibat bekerja keras setiap hari. Tersirat di wajah Bruno betapa dia terlihat sedih karena dia harus terus mengangkut ember-ember itu demi mempertahankan impian dan kemewahan yang telah diraihnya.
Pablo juga mendengar kalau sekarang Bruno jarang dapat bersantai di rumahnya atau di kedai-kedai favoritnya, karena setiap kali ada orang mengajaknya untuk bersantai atau sekedar makan di kedai pada sore atau malam hari, Bruno selalu menjawab ”Maaf, sekarang aku harus bekerja ”. Sedangkan bila dia diajak pada malam hari, dia selalu menjawab, ”Maaf, aku lelah sekali. Aku harus beristirahat.”. Akibat hal ini, orang-orang desa memberikan julukan baru baginya ”Bruno Si Manusia Ember”.
Akhirnya saat bahagia Pablo pun tibalah : saluran pipanya selesai !!! Orang-orang desa berkumpul saat air mulai mengalir dari saluran pipanya menuju bak raksasa di desa mereka. Dan mereka semua dapat melihat bahwa air dari pipa Pablo lebih bersih dan lebih banyak. Mereka juga kini dapat melihat hasil jerih payah Pablo yang dahulu mereka lecehkan. Ternyata kini dengan usaha yang minim mereka dapat menikmati hasil yang berlimpah.
Setelah saluran pipa itu selesai, kini Pablo tak perlu lagi membawa-bawa ember untuk mengangkut air. Karena air akan terus mengaliri pipa miliknya, baik ia sedang bekerja atau tidak. Air itu akan tetap mengalir di akhir minggu ketika Pablo sedang bersantai. Air itu juga terus mengalir bahkan ketika Pablo sedang tidur.
Bisa dibayangkan berapa penghasilan yang diperoleh Pablo saat ini. Semakin banyak air yang dapat ia pasok ke desa itu, semakin banyak pula tentunya penghasilan yang diperolehnya. Belum lagi bonus yang selalu diterimanya karena selalu mampu mengisi penuh bak rakasasa di desa mereka, bahkan sampai beberapa kali !!!
Sebaliknya dengan Bruno ; dia mengalami penurunan yang drastis. Fisiknya semakin melemah sehingga tidak mampu lagi mengangkut ember sebanyak awal dulu. Bahkan karena sakit, dia sering tidak dapat bekerja. Akibatnya tentu saja dia tidak mendapatkan penghasilan pada hari itu. Sedikit demi sedikit, dia kehilangan benda-benda berharga yang dulu amat dibangga-banggakannya : keledainya, rumah mewahnya dll.
Melihat perubahan ini, Pablo merasa kasihan kepada sahabatnya itu. Karena itu Pablo berusaha menemui Bruno di suatu sore.
”Bruno sahabatku, aku datang ke mari untu meminta bantuanmu.” ujar Pablo ketika mereka bertemu.
Sejenak Bruno meluruskan badannya yang bunkuk. Matanya yang tampak kelam semakin mengecil. ”Kau jangan menghinaku ya !” katanya dengan suara agak serak.
”Tidak, sobat..aku tidak menghinamu” jawab Pablo sambil tersenyum ”Justru aku mau menawarkan sebuah bisnis bagus buatmu. Hampir dua tahun lamanya aku bekerja untuk bisa menyelesaikan pembangunan pipaku yang pertama. Tetapi dalam masa itu, aku telah banyak belajar. Aku jadi lebih paham dengan peralatan yang sebaiknya harus aku gunakan untuk mencangkul. Aku juga lebih paham mana tanah yang baik untukku menggali. Semua itu aku perhatikan dan aku catat dengan baik. Oleh karena itu, sekarang aku merasa mampu mengembangkan suatu cara baru yang lebih efektif & efisien untuk membangun saluran-saluran pipa lainnya.” Pablo menerangkan.
”Sebenarnya bisa saja aku yang menyelesaikan sendiri saluran pipa itu dalam waktu lebih kurang setahun lagi. Tetapi rasanya, untuk apa aku menghabiskan waktu setahun lagi hanya untuk membangun sebuah saluran pipa lagi ? Rencanaku : aku akan mengajarimu cara membangun saluran pipa. Aku mengharap engkau pun kelak akan mengajarkan cara ini kepada orang lain di desa ini, sehingga nantinya setiap orang dapat memiliki saluran pipanya sendiri. Lalu saluran pipa ini akan menyebar ke semua desa, di negara kita ini. Dan bahkan akhirnya, saluran pipa-pipa ini akan ada di setiap desa di seluruh dunia !!!” terang Pablo dengan penuh semangat.
Bruno masih terdiam, meski dalam hati kecilnya dia mulai menyadari kedahsyatan berpikir sahabatnya ini.
“Coba kau renungkan,” lanjut Pablo kemudian, “kita nantinya bisa mengutip sejumlah uang untuk setiap galon air yang dialirkan melalui saluran-saluran pipa milik kita ! Semakin banyak air yang mengalir melalui saluran pipa kita, maka semakin banyak pula uang yang mengalir ke kantong kita ! Hebatnya, semua itu tetap dapat kita nikmati, meskipun kita sedang tidur !” Pablo menghela napas sejenak. “Pipa yang baru saja aku selesaikan itu sebenarnya bukanlah akhir dari obsesiku. Justru ini merupakan awal obsesi dan impianku.”
“Bagaimana, sahabat, maukah engkau bergabung denganku, membangun saluran pipa yang lainnya ?” tanya Pablo sambil menepuk lembut pundak Bruno.
Bruno menatap mata Pablo, sahabatnya yang dulu sempat dihinanya. Bruno kini menyadari bahwa ternyata sahabatnya itu bukan saja seorang pekerja keras, namun juga seorang yang cerdas. Selain itu ia juga seorang yang berhati tulus. Terbukti walaupun ia telah berhasil, namun ia tidak melupakan dirinya, bahkan berusaha mengajaknya untuk sukses pula.
Sejurus Bruno memandangi kedua tangannya yang penuh dengan goresan luka serta kulitnya yang hitam terbakar mentari. Bruno kemudian mengulurkan tangannya ke arah Pablo, sambil menahan isak tangis, mulutnya berujar, “Maafkan aku, Pablo.”
Pablo segera merangkul erat sahabatnya itu, “Bruno, sahabatku,” keduanya berpelukan bagaikan dua orang sahabat yang sudah lama tak bertemu.

Tahun-tahun pun berlalu. Pablo dan Bruno sudah lama pindah ke kota besar. Usaha saluran pipanya yang mendunia terus saja menghasilkan ratusan juta dollar setahun melalui rekening bank mereka.
Suatu ketika saat mereka pulang ke desa, mereka melihat beberapa pemuda yang tampak sibuk mengangkut air dengan ember. Mereka pun teringat kisah hidup mereka dahulu. Kemudian mereka berdua menemui para pemuda pengangkut air tersebut dan menceritakan kisah hidup mereka dahulu. Keduanya kemudian menawarkan bantuan untuk membangun saluran pipa air.
Tetapi meskipun keduanya sudah menerangkan secara detail manfaat serta keuntungan dari pembuatan saluran pipa itu, tetapi hanya satu atau dua orang saja dari pemuda tersebut yang mau mengikuti jejak keduanya. Yang lainnya ada yang mencibir dan berlalu dengan nada meremehkan.
”Waah... terlalu lama.”
”Maaf, saya tidak punya waktu.”
”Teman saya kenal orang yang berusaha membuat saluran pipa, tapi ternyata gagal”
”Itu khan kalian, kami ?”
”Saya pernah mendengar ada orang yang merugi karena usaha saluran pipanya gagal total. Saya tidak mau hal itu terjadi pada saya.”
”Hanya keahlian mengangkut ember ini yang saya miliki dari awal. Berat rasanya untuk memulai sesuatu yang sama sekali baru.”
”Ahh...begini juga sudah lumayan kok”
Demikian antara lain sebagian jawaban mereka. Betapapun Pablo dan Bruno berusaha menyadarkan mereka, tapi mereka tetap tak bergeming dengan pendirian mereka. Akhirnya Pablo & Bruno pun berlalu bersama dengan kedua pemuda yang bersedia mengikuti langkah mereka.
Pablo & Bruno menyadari bahwa memang di dunia ini masih banyak mental-mental pembawa ember. Mereka terjebak dengan Jebakan Barter. Ya, mereka harus membarterkan waktu & tenaga mereka demi mendapatkan uang.
- Bekerja satu jam dibayar satu jam.
- Bekerja satu hari dibayar satu hari.
- Bekerja satu bulan dibayar satu bulan, dst.
- TIDAK BEKERJA ??? YA TIDAK DIBAYAR !!!
Sedangkan mental pembuat saluran pipa hanya sedikiiit sekali...Hanya sedikit sekali orang yang berani dan mempunyai ambisi untuk mencapai kesuksesan melalui usaha saluran pipa. Sedikit sekali orang yang mau sejenak ”keluar” dari zona kenyamanan mereka untuk berusaha mambangun pondasi kokoh yang kelak akan menguatkan kedudukan mereka. Padahal dalam usaha saluran pipa kalau kita simak, memang terlihat berat di awal namun ringan dan menguntungkan di akhirnya. Bahkan hasilnya dapat dinikmati pada saat kita sedang tidur sekalipun !
Model manakah kita ; PEMBAWA EMBER atau PEMBUAT SALURAN PIPA ?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Boleh donk kasih komentarnya ...

Terima kasih.